Touch me again

Islam

Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh

Pagi hari ini saya bangun dengan kepala pusing dan hidung mampet sebelah, juga tenggorokan yang agak sakit seperti radang. Mungkin ini efek ketika tidur terlalu malam dan makan nasi goreng yang agak gimana gitu dimalam-malam. Jadi setelah sholat subuh, saya tidur lagi. Nah kebetulan kalo saya tidur setelah subuh itu bangunnya pasti pusing juga. Akhirnya saya tidur lagi, dan ijin untuk tidak masuk kantor setengah hari. Oh iya, saya lupa mengatakan ini adalah hari jumat salah satu hari besar umat muslim.
Sebenarnya saya penasaran jam berapakah ikhwah berangkat ke masjid untuk sholat jumat. Karena memang saya belum pernah hari jumat luang ada di kost. Waktu itu masih pukul 11, dan jadwal memperlihatkan waktu itu masih 1 jam sebelum sholat jumat dimulai, dan teman kostan disebelah sudah berangkat ke masjid. Saya jadi bersemangat untuk siap-siap, tapi karena saya sedang menyelesaikan biodata untuk ta’aruf maka saya luangkan waktu beberapa menit untuk mengisi biodata tersebut.
Beberapa kali saya membuka handphone saya, melihat pesan di whatsapp messenger seorang ikhwah menanyakan siapa imam sholat jumat kali ini. Dan ada yang membalas Ustadz Abu Abdirrohman Abdulhaq. Okay, karena saya rasa mengisi biodata sudah cukup dan bisa dilanjutkan lagi, jadi saya siap-siap menuju masjid. Disana qodarullah masih 2 shaf terpenuhi, jadi masih bisa duduk mendengarkan Ustadz Abdulhaq berceramah. Beliau datang tepat pada waktu sholat jumat dimulai, dan khotbah pun langsung beliau mulai.
Ustadz Abdulhaq menjelaskan mengenai keutamaan memuliakan seorang ibu, dan menjelaskan beberapa dalil mengenai keutamaan memuliakan seorang ibu. Juga menjelaskan walaupun ibu kita menyuruh kita untuk bermaksiat kepada Allah, maka seharusnya kita masih tetap untuk memuliakan ibu kita, menyayanginya namun tidak menjalankan perintah yang batil tersebut. Saya jadi ingat ibu saya yang sering marah-marah, tapi jadi teringat juga dulu bagaimana sayangnya ibu saya terhadap saya ketika masih kecil. Ya saya pendiam sekali katanya, saya juga jadi ingat bagaimana seringnya digendong ibu. Dan tiba-tiba seorang ikhwan yang berprofesi sebagai dokter tidak jauh dari saya menjadi tersedu-sedu. Sepertinya beliau menangis, tapi saya tidak berani menoleh kearah beliau. Saya masih tetap merenungi kata-kata yang di ucapkan oleh Ustadz Abdulhaq.
Tak terasa khutbah selesai, kami segera memulai sholat jumat. Lantunan surat Al Fatihah terdengar dan terasa sekali bahwa yang melantunkan adalah Ustadz Abdulhaq. Tiba – tiba ketika membacakan surat selanjutnya, Ustadz Abdulhaq menangis tersedu-sedu. Sejujurnya saya tidak tau surat yang dibacakan oleh Ustadz, padahal cukup sering mendengarnya. Disitu saya merasa bahwa sedikit sekali ilmu yang saya punya, untuk memahami surat yang sedang dibaca saja saya tidak tau, apalagi arti dari ayat yang membuat Ustadz Abdulhaq menagis tersedu-sedu. Cukup lama Ustadz terdiam untuk menenangkan. Namun justru disitu saat Ustadz teridam, merasa iman saya kurang. Ilmu yang saya miliki juga kurang banyak, serasa kalo ngaji sepekan 3 kali itu gak cukup karena ilmu agama itu banyak dan luas. Disitu saya merasa tersentuh untuk introspeksi diri. Dan saya rasa Allah ta’ala maha adil, dan maha menyangi terhadap semua makhluknya. Kadang kita itu sudah dipanggil, namun kita merasa tidak terpanggil. Kadang kita dipanggil lagi, dan sudah menoleh namun tetap bersikeras merasa tidak ada yang memanggil. Dan ketika di sentuh pundak kita, kadang kita juga tidak merasa tersentuh. Lalu, sampai pada ketika kita diberi cobaan dan merasa Allah ta’ala tidak adil. Sebenarnya yang salah itu siapa? Padahal sudah diperingatkan, dan sering kali kita mendengarnya :

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan tidaklah Aku ciptakan Jin dan Manusia kecuali untuk beribadah kepadaku” (Q.S adz-Dzaariyaat ayat 56)

 

Bila syaiton

Islam, sudut pandang

Aku tidak dapat membohongi diriku sendiri.

Bila syaiton itu cantik, dan sekali aku menatapnya.
Aku tidak akan lari darinya.
Bahkan mungkin aku akan mencintainya.

Sungguh sangat rendahnya iman pada diri ini.
Sungguh sangat lemahnya diri ini.
Sungguh tiada yang mampu menolongku dari fitnah dunia ini, kecuali pertolongan dari diriMu Ya Allah.

Ampunilah aku.
Aku hanyalah hambaMu yang lemah iman, tidak pandai bersyukur, dan tidak pula pandai bersabar.
Kuatkanlah imanku kepada Mu, kepada agamaMu, dan mudahkanlah mengikuti sunnah-sunnah yang telah Engkau ajarkan kepada Rosul Mu.

Ya Allah, kuatkan lah pundak ini agar selamat di dunia yang fana.
Semoga aku termasuk kedalam golongan orang-orang yang Engkau cintai.

Sekarang ini

Hadits, Islam, sudut pandang

Assalamualaikum

Ini adalah cerita saya tentang kecemasan, sekaligus sebagai nasehat untuk diri sendiri, dan bagi anda yang membaca bila sekiranya nasehat ini berguna bagi anda silahkan ambilah.

“Trend”

Sebuah kata yang mengartikan suatu hal yang sedang digandrungi. Namun trend itu tak selamanya baik, tak selamanya memberikan manfaat, dan tak selamanya halal.

Trend ini tidak hanya berkisar pada rentang umur tertentu, namun seluruhnya. Yang meyebabkan terjadinya trend ini adalah media, ya media dapat berupa jejaring sosial, televisi, maupun teknologi lain.

Saya agak miris, mengapa hampir seluruh orang di kampung halaman saya terbawa trend. Trend dimana satu orang yang dipandang keren ditiru, padahal orang tersebut sebetulnya tidak patut untuk ditiru. Karena kadang orang tersebut beda agama, kadang satu agama, namun tidak mengamalkan agamanya. memangnya kenapa kalau meniru seperti itu? Jawaban simple saya adalah, hal tersebut tidak ada dalam tuntunan Rasulullah, juga bila tidak ada dalam tuntunan Rasulullah, maka tidak ada hadits juga yang memperbolehkannya.

Masih tidak percaya? Silahkan baca.

Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَأْخُذَ أُمَّتِى بِأَخْذِ الْقُرُونِ قَبْلَهَا ، شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ  . فَقِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَفَارِسَ وَالرُّومِ . فَقَالَ  وَمَنِ النَّاسُ إِلاَّ أُولَئِكَ

Kiamat tidak akan terjadi hingga umatku mengikuti jalan generasi sebelumnya sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta.” Lalu ada yang menanyakan pada Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, “Apakah mereka itu mengikuti seperti Persia dan Romawi?” Beliau menjawab, “Selain mereka, lantas siapa lagi?“ (HR. Bukhari no. 7319)

Dari Abu Sa’id Al Khudri radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا فِى جُحْرِ ضَبٍّ لاَتَّبَعْتُمُوهُمْ , قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ آلْيَهُودَ وَالنَّصَارَى قَالَ : فَمَنْ

Sungguh kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta sampai jika orang-orang yang kalian ikuti itu masuk ke lubang dhob (yang sempit sekalipun, -pen), pasti kalian pun akan mengikutinya.” Kami (para sahabat) berkata, “Wahai Rasulullah, apakah yang diikuti itu adalah Yahudi dan Nashrani?” Beliau menjawab, “Lantas siapa lagi?” (HR. Muslim no. 2669).

Dari Ibnu ‘Umar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Ahmad 2: 50 dan Abu Daud no. 4031. Syaikhul Islam dalam Iqtidho‘ 1: 269 mengatakan bahwa sanad hadits ini jayyid/bagus. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih sebagaimana dalam Irwa’ul Gholil no. 1269)

Dari ‘Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَيْسَ مِنَّا مَنْ تَشَبَّهَ بِغَيْرِنَا

Bukan termasuk golongan kami siapa saja yang menyerupai selain kami” (HR. Tirmidzi no. 2695. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan).

Hadist diatas sudah mecukupi bahwasanya, kita tidak diperbolehkan sembarangan mengikuti trend. Menurut saya dari hasil kesimpulan memahami hadits-hadits diatas kita diperbolehkan mengikuti trend, hanya saya trend yang berdasarkan sunnah Rasulullah yang diperbolehkan untuk diikuti.

Terus dari tadi ngomongin trend, emang ada apa sih?

Jadi dikampung saya sangat kental dengan trend ini. Seperti yang sudah saya singgung diatas, trend dimana mengikuti orang yang dianggapnya keren. Sebenarnya dia tidak tau tolak ukur disebut keren itu seperti apa, hanya saja televisi, majalah, yang notabene hal itu disebut media, mempengaruhi tolak-ukur mereka mengenai trend tersebut.

Nah salah satu trend yang sedang hits saat ini adalah hijrah. Ngomong-ngomong setiap orang memang punya masa jahiliyahnya sendiri, punya masa kelamnya sendiri. Jadi hijrah sebenarnya bukanlah trend yang sedang ngehits namun memang seudah sewajarnya orang yang masih berada dimasa kelamnya untuk segera berhijrah. Nah masalahnya adalah hijrah itu terpengaruh karena trend. Hijrah itu harusnya bukan karena trend, tapi karena dari hati ingin bertaubat, memperdalam ilmu agama, juga menerapkan ilmu agama tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Bukan karena ada yang hijrah terus ikutan hijrah, bukan karena gak punya pacar terus hijrah, bukan karena mendapat banyak masalah terus hijrah. Setiap orang itu pasti butuh hijrah (red. mengentrospeksi diri / muhassabah), bahkan orang yang sudah sholeh pun tetap berhijrah agar lebih baik lagi. Nah, ada juga nih trend hijrah menggunakan hijab yang lebar menutupi dada. Ya memang hal itu diwajibkan untuk digunakan. Tapi yang saya sesalkan disini, mengapa menunggu jadi trend untuk digunakan? Yang saya takutkan mereka menggunakan itu hanya untuk pamer! Yang saya takutkan hanyalah sesaat saja! setelah trend itu hilang, mereka tidak menggunakan hijab lagi. Karena fenomena sekarang, para perempuan berlomba-lomba menggunakan hijab yang lebar, lalu berfoto-foto, dan dipamerkan. Apa tujuannya? Hal tersebut dilarang, karena akan menggoda iman laki-laki. Mungkin anda akan mengatakan, “itu kan laki-lakinya aja yang jelalatan!” Baiklah, misalkan ada seorang wanita sedang berjalan dilorong, dan dilorong tersebut terdapat preman-preman jahat. Wanita ini berjalan melewati lorong menggunakan pakaian yang sangat menggoda para preman. Bisa anda bayangkan apa yang akan terjadi terhadap wanita ini? Nah sama halnya dengan anda memamerkan badan anda, wajah anda, atau bagian tubuh lain dari anda. Apakah itu tidak berbahaya apabila anda di incar seorang kriminal? Atau orang tersebut membawa foto anda untuk diserahkan kepada seorang dukun untuk dipelet? Apakah anda ridho?

Apa juga manfaatnya untuk para wanita memamerkan foto-fotonya? Apa hanya ingin membuktikan sudah berhijrah? Tidak perlu melakukan itu kok, tidak seharusnya dipamerkan. Yang ada dalam dirimu itu adalah riya’! Keluarkanlah riya’ itu, sebelum dia menghabiskan seluruh pahalamu.

Jangan kira anda tidak dapat meninggalkan hal itu! Jangan bilang anda belum punya banyak ilmu. Lha gimana mau banyak ilmu? kalau yang sedikit saja tidak diamalkan, kalau banyak ilmu gimana mau mengamalkan?

Jadi orang salaf bukan mereka orang yang berilmu banyak, namun mereka yang setiap mendapatkan ilmu tentang suatu perkara, maka mereka amalkan, mereka buat menjadi kebiasaan / habit. Mereka juga melakukan muhassabah atau introspeksi diri apakah amalan yang mereka kerjakan sudah benar? Atau adakah yang kurang optimal?

Cukup sekian nasehat untuk saya pribadi.

Terimakasih.

Tahanlah penatnya belajar

Hadits, Islam

Assalamualaikum..

Lama sekali rasanya tidak nulis disini. Sebenernya lagi males kerja, karena liat kostan lagi berantakan. Weekend pekan kemarin belum sempet beres-beres kostan soalnya. Tapi saya ngantor aja lah, karena mau cari sarapan sekalian. Sampai kantor, absen, cuci tangan, ambil jalan, nyalain laptop, dan buka facebook, entah kenapa jadi sering buka facebook belakangan ini. Tiba-tiba ada yang nongol di timeline paling atas, seperti ini :

Source : https://tadabburdaily.files.wordpress.com/2016/02/tadabbur_malas-belajar.jpg

Sepertinya nampol banget pagi ini.
Allah selalu mengingatkanku, allah juga melancarkan rejekiku, Allah juga memanggilku saat aku seharusnya menjalankan ibadahku, namun aku lebih sering menundanya, mengalihkan panggilannya, seolah-olah masih banyak pekerjaan yang harus dikerjakan, dan anehnya aku berharap mendapatkan syafaat NabiNya disaat hari penimbangan kelak, anehnya yang lain adalah aku selalu berdoa untuk menjadi seorang hamba Allah yang beruntung dan pandai bersyukur.

 

وَآتَاكُم مِّن كُلِّ مَا سَأَلْتُمُوهُ ۚ وَإِن تَعُدُّوا نِعْمَتَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا ۗ إِنَّ الْإِنسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ

“Seandainya kamu menghitung nikmat-nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan dapat menghitungnya. Sesungguhnya manusia sangat zhalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).” [QS Ibrahim : 34]

Tetangga yang kelaparan

Hadits, Islam

Assalamualaikum,

Alloh Ta’ala berfirman

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ إِنَّ اللَّهَ لا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالا فَخُورًا

artinya, “Sembahlah Alloh dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orangtua, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Alloh tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri” (QS. An Nisaa’ : 36)

Rosulullah shollallohu alaihi wa sallam bersabda.

Bukanlah seorang mukmin yang tidur dalam keadaan kenyang sementara tetangga sebelahnya kelaparan” (HR.  Bukhori dalam Adabul Mufrod).

Hadits diatas menjelaskan bahwa pentingnya berbagi dengan tetangga kita. Bahkan bila dikatakan bila sampai tetangga kita kelaparan, sedangkan kita tertidur nyenyak maka kita bukanlah seorang mukmin.

Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Tidak akan masuk surga orang yang tetangganya tidak merasa aman dari gangguannya” (HR. Bukhori dan Muslim).

Hadits berikutnya menunjukan betapa kita seharusnya menghormati tetangga kita. Tetangga,pada umunya memang bukanlah saudara kita. Namun mereka tinggal didekat kita, dan tatkala kita sedang kesusahan maka tetanggalah yang pertama kali akan mengetahui dan pertama yang akan kita mintai pertolongan. Maka berbaik-lah dengan tetangga, hargailah dan berilah mereka hak yang salah satunya tertera pada hadits diatas. Sering kali saya tidak menghargai tetangga, kadang tatkala saya lewat di kerumunan tetangga saya tidak menyapanya. Sepertinya hal itulah yang sekarang harus dirubah. Semoga Allah memudahkan kita, dan menunjukan juga menuntun kita ke jalan yang Allah ridhoi.

Maafkanlah hambaMu ini

Islam, sudut pandang
sujudpic : https://pbs.twimg.com/media/CKxUFAQUcAA8qzM.jpg

Ya Allah,
kepadaMu lah aku meminta, dan memohon pertolongan.

Ya Allah,
Engkau Yang Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun.

Maafkanlah hambaMu ini, yang kurang dan sering lupa bersyukur kepadaMu.
Maafkanlah hambaMu ini, yang sering terlambat menunaikan kewajiban yang Engkau berikan kepadaku.
Maafkanlah hambaMu ini, yang bertaubat namun masih sering menjalankan maksiat.

Ya Allah,
Tuntunlah hambaMu ini ketempat yang lebih baik, dan jauhkanlah dari azabMu kelak.

Ya Allah jadikanlah Aku termasuk hamba-hambaMu yang beruntung dan pandai bersyukur.
Ya Allah jauhkanlah Aku dari keadaan tua yang buruk.
Ya Allah, tuntunlah hambaMu ini agar selalu dekat denganMu.
Dan ampunilah semua dosa hambaMu ini, sesungguhnya hambaMu ini adalah seorang pendosa yang sering tergiur akan nikmat dunia.

Bagaimana jika imam sholat tidak mengikuti syariat?

Hadits, Islam

Assalamualaikum..

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

يُصَلُّوْنَ لَكُمْ، فَإِنْ أَصَابُوْا فَلَكُمْ وَلَهُمْ، وَإِنْ أَخْطَأُوْا فَلَكُمْ وَعَلَيْهِمْ.

“Mereka shalat mengimami kalian. Apabila mereka benar, kalian dan mereka mendapatkan pahala. Apabila mereka keliru, kalian mendapat pahala sedangkan mereka mendapat dosa.”

HR. Al-Bukhari (no. 694) dan Ahmad (II/355, 537), dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu.

 

referensi :
http://almanhaj.or.id/content/2026/slash/0/hukum-shalat-di-belakang-ahlul-bidah-hukum-shalat-tahiyyatul-masjid/