Bila syaiton

Islam, sudut pandang

Aku tidak dapat membohongi diriku sendiri.

Bila syaiton itu cantik, dan sekali aku menatapnya.
Aku tidak akan lari darinya.
Bahkan mungkin aku akan mencintainya.

Sungguh sangat rendahnya iman pada diri ini.
Sungguh sangat lemahnya diri ini.
Sungguh tiada yang mampu menolongku dari fitnah dunia ini, kecuali pertolongan dari diriMu Ya Allah.

Ampunilah aku.
Aku hanyalah hambaMu yang lemah iman, tidak pandai bersyukur, dan tidak pula pandai bersabar.
Kuatkanlah imanku kepada Mu, kepada agamaMu, dan mudahkanlah mengikuti sunnah-sunnah yang telah Engkau ajarkan kepada Rosul Mu.

Ya Allah, kuatkan lah pundak ini agar selamat di dunia yang fana.
Semoga aku termasuk kedalam golongan orang-orang yang Engkau cintai.

Advertisements

Sekarang ini

Hadits, Islam, sudut pandang

Assalamualaikum

Ini adalah cerita saya tentang kecemasan, sekaligus sebagai nasehat untuk diri sendiri, dan bagi anda yang membaca bila sekiranya nasehat ini berguna bagi anda silahkan ambilah.

“Trend”

Sebuah kata yang mengartikan suatu hal yang sedang digandrungi. Namun trend itu tak selamanya baik, tak selamanya memberikan manfaat, dan tak selamanya halal.

Trend ini tidak hanya berkisar pada rentang umur tertentu, namun seluruhnya. Yang meyebabkan terjadinya trend ini adalah media, ya media dapat berupa jejaring sosial, televisi, maupun teknologi lain.

Saya agak miris, mengapa hampir seluruh orang di kampung halaman saya terbawa trend. Trend dimana satu orang yang dipandang keren ditiru, padahal orang tersebut sebetulnya tidak patut untuk ditiru. Karena kadang orang tersebut beda agama, kadang satu agama, namun tidak mengamalkan agamanya. memangnya kenapa kalau meniru seperti itu? Jawaban simple saya adalah, hal tersebut tidak ada dalam tuntunan Rasulullah, juga bila tidak ada dalam tuntunan Rasulullah, maka tidak ada hadits juga yang memperbolehkannya.

Masih tidak percaya? Silahkan baca.

Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَأْخُذَ أُمَّتِى بِأَخْذِ الْقُرُونِ قَبْلَهَا ، شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ  . فَقِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَفَارِسَ وَالرُّومِ . فَقَالَ  وَمَنِ النَّاسُ إِلاَّ أُولَئِكَ

Kiamat tidak akan terjadi hingga umatku mengikuti jalan generasi sebelumnya sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta.” Lalu ada yang menanyakan pada Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, “Apakah mereka itu mengikuti seperti Persia dan Romawi?” Beliau menjawab, “Selain mereka, lantas siapa lagi?“ (HR. Bukhari no. 7319)

Dari Abu Sa’id Al Khudri radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا فِى جُحْرِ ضَبٍّ لاَتَّبَعْتُمُوهُمْ , قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ آلْيَهُودَ وَالنَّصَارَى قَالَ : فَمَنْ

Sungguh kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta sampai jika orang-orang yang kalian ikuti itu masuk ke lubang dhob (yang sempit sekalipun, -pen), pasti kalian pun akan mengikutinya.” Kami (para sahabat) berkata, “Wahai Rasulullah, apakah yang diikuti itu adalah Yahudi dan Nashrani?” Beliau menjawab, “Lantas siapa lagi?” (HR. Muslim no. 2669).

Dari Ibnu ‘Umar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Ahmad 2: 50 dan Abu Daud no. 4031. Syaikhul Islam dalam Iqtidho‘ 1: 269 mengatakan bahwa sanad hadits ini jayyid/bagus. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih sebagaimana dalam Irwa’ul Gholil no. 1269)

Dari ‘Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَيْسَ مِنَّا مَنْ تَشَبَّهَ بِغَيْرِنَا

Bukan termasuk golongan kami siapa saja yang menyerupai selain kami” (HR. Tirmidzi no. 2695. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan).

Hadist diatas sudah mecukupi bahwasanya, kita tidak diperbolehkan sembarangan mengikuti trend. Menurut saya dari hasil kesimpulan memahami hadits-hadits diatas kita diperbolehkan mengikuti trend, hanya saya trend yang berdasarkan sunnah Rasulullah yang diperbolehkan untuk diikuti.

Terus dari tadi ngomongin trend, emang ada apa sih?

Jadi dikampung saya sangat kental dengan trend ini. Seperti yang sudah saya singgung diatas, trend dimana mengikuti orang yang dianggapnya keren. Sebenarnya dia tidak tau tolak ukur disebut keren itu seperti apa, hanya saja televisi, majalah, yang notabene hal itu disebut media, mempengaruhi tolak-ukur mereka mengenai trend tersebut.

Nah salah satu trend yang sedang hits saat ini adalah hijrah. Ngomong-ngomong setiap orang memang punya masa jahiliyahnya sendiri, punya masa kelamnya sendiri. Jadi hijrah sebenarnya bukanlah trend yang sedang ngehits namun memang seudah sewajarnya orang yang masih berada dimasa kelamnya untuk segera berhijrah. Nah masalahnya adalah hijrah itu terpengaruh karena trend. Hijrah itu harusnya bukan karena trend, tapi karena dari hati ingin bertaubat, memperdalam ilmu agama, juga menerapkan ilmu agama tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Bukan karena ada yang hijrah terus ikutan hijrah, bukan karena gak punya pacar terus hijrah, bukan karena mendapat banyak masalah terus hijrah. Setiap orang itu pasti butuh hijrah (red. mengentrospeksi diri / muhassabah), bahkan orang yang sudah sholeh pun tetap berhijrah agar lebih baik lagi. Nah, ada juga nih trend hijrah menggunakan hijab yang lebar menutupi dada. Ya memang hal itu diwajibkan untuk digunakan. Tapi yang saya sesalkan disini, mengapa menunggu jadi trend untuk digunakan? Yang saya takutkan mereka menggunakan itu hanya untuk pamer! Yang saya takutkan hanyalah sesaat saja! setelah trend itu hilang, mereka tidak menggunakan hijab lagi. Karena fenomena sekarang, para perempuan berlomba-lomba menggunakan hijab yang lebar, lalu berfoto-foto, dan dipamerkan. Apa tujuannya? Hal tersebut dilarang, karena akan menggoda iman laki-laki. Mungkin anda akan mengatakan, “itu kan laki-lakinya aja yang jelalatan!” Baiklah, misalkan ada seorang wanita sedang berjalan dilorong, dan dilorong tersebut terdapat preman-preman jahat. Wanita ini berjalan melewati lorong menggunakan pakaian yang sangat menggoda para preman. Bisa anda bayangkan apa yang akan terjadi terhadap wanita ini? Nah sama halnya dengan anda memamerkan badan anda, wajah anda, atau bagian tubuh lain dari anda. Apakah itu tidak berbahaya apabila anda di incar seorang kriminal? Atau orang tersebut membawa foto anda untuk diserahkan kepada seorang dukun untuk dipelet? Apakah anda ridho?

Apa juga manfaatnya untuk para wanita memamerkan foto-fotonya? Apa hanya ingin membuktikan sudah berhijrah? Tidak perlu melakukan itu kok, tidak seharusnya dipamerkan. Yang ada dalam dirimu itu adalah riya’! Keluarkanlah riya’ itu, sebelum dia menghabiskan seluruh pahalamu.

Jangan kira anda tidak dapat meninggalkan hal itu! Jangan bilang anda belum punya banyak ilmu. Lha gimana mau banyak ilmu? kalau yang sedikit saja tidak diamalkan, kalau banyak ilmu gimana mau mengamalkan?

Jadi orang salaf bukan mereka orang yang berilmu banyak, namun mereka yang setiap mendapatkan ilmu tentang suatu perkara, maka mereka amalkan, mereka buat menjadi kebiasaan / habit. Mereka juga melakukan muhassabah atau introspeksi diri apakah amalan yang mereka kerjakan sudah benar? Atau adakah yang kurang optimal?

Cukup sekian nasehat untuk saya pribadi.

Terimakasih.

Wonosobo – Jakarta – Yogyakarta

sudut pandang

Assalamualaikum.

Cerita ini berasal dari pengalaman saya sendiri. Mungkin anda setelah baca bilang “ah masa sih”. Itu tersereh anda. hehehe..

Jadi semenjak lahir saya tinggal di Wonosobo. Kota kecil yang terletak di tengah-tengah pulau Jawa, dan terletak di dataran tinggi jadi agak dingin disana. Saya tinggal di Wonosobo sampai saya lulus SMK, dan memutuskan untuk bermigrasi untuk belajar di sebuah perguruan tinggi di Depok, Jawa Barat. Sebelum lanjut cerita tentang kehidupan di Depok, saya cerita dulu kehidupan di Wonosobo. Di Wonosobo saya tinggal bersama keluarga tentunya, hidup berkecukupan dan boleh dibilang harga kebutuhan pokok murah. (Alhamdulillah) Kami hidup dengan tata krama dan sopan santun, juga saling menghargai baik antar umat beragama juga dengan siapapun. Jadi jarang saling bersinggungan, dan kalau ada yang bersinggungan mereka malu sendiri. Mungkin kalau orang jawa ngomongnya “pekiwuh”. hehehe..

Selanjutnya saya bercerita tentang kehidupan Depok dan Jakarta, disana banyak yang berbeda. Tetanggaan sebelah rumah gak kenal, jarang banget menyapa orang, disapa juga gak balik menyapa, dan sering banget melanggar lalu lintas, itu hanya beberapa contoh saja. Gimana ya, tata kramanya berbeda lumayan jauh dibandingkan dengan kehidupan di Wonosobo. Itu mungkin gak disemua daerah, hanya saja yang saya temui saya rasakan kebanyakan seperti itu. Mereka seperti terjebak dalam perlombaan tikus. (yang mau tau tentang perlombaan tikus kesini aja.) Mereka tinggal hanya untuk bekerja mencari uang, lalu menghabisakannya, dan lebih mementingkan gensi, jadi kehidupan glamor lah yang ditonjolkan. Hal itu lumayan mempengaruhi pola pikir saya sampai sekarang. Ya bayangkan saja, hidup di jakarta tidaklah murah, biaya sekolah anak lebih mahal, namun yang didapatkan, ternyata lingkungan sekolahan sudah hancur, ada yang tawuran, ada yang pakai narkoba, ada yang bermaksiat. Jadi kesimpulan saya jangan tinggal di jakarta, kalau untuk main sesekali silahkan.

Selanjutnya setelah saya lulus kuliah dan kerja kira-kira satu tahun, saya pindah ke Yogjakarta, tempat yang dari dulu saya pengen untuk tinggali. Disini alhamdulillah enak, sesuai dengan panggilannya kota pelajar. Disini masih memegang tata krama dan sopan santun juga mudah dalam mencari kajian atau diskusi mengenai suatu hal. Hanya saja saya masih belum bisa 100%  meninggalkan kebiasaan orang Jakarta yang buruk.

Ternyata sudah dua bulan belum post lagi.

Vulnerability Issue

kemanan, Other, sudut pandang
vulnerability
http://762315560.r.lightningbase-cdn.com/wp-content/uploads/2011/07/vulnerability2.jpg

Assalamualaikum..

Seperti biasa mau share, kali ini tentang pengalaman dilapangan kerja.
Langsung saja, dikantor kami beberapa menggunakan framework PHP yang sudah lama. Yang akan saya share adalah tentang lubang keamanan, bahwa kalau menggunakan framework yang sama kemungkinan besar mempunyai lubang keamanan yang sama. Dapat berarti juga bila satu aplikasi bisa ditembus oleh seorang cracker maka boleh dikatakan aplikasi / site lain juga dapat tertembus.

Disini ada beberapa pihak yang terkait dengan pengamanan, antara lain adalah sysadmin, programmer, dan tester. Sebenarnya setiap kali programmer melakukan relese, pihak tester seharusnya yang seharusnya paling cermat mengenai lubang keamanan ini. Karena sysadmin tidak paham banyak mengenai coding dan programmer pun tidak semua memahami akan lubang keamanan dari aplikasi yang ia buat. Jadi terster harusnya melakukan test tidak hanya dari sisi aplikasi bisa diakses atau running well tapi juga harus memperhatikan sisi keamanan aplikasi tersebut.

Semoga bermanfaat.

Start Up Lokal – Swasta – BUMN – Asing – “Entrepreneur”

sudut pandang
perusahaanpoc : http://www.mendix.com/wp-content/uploads/capgemini-partner-graphic.png

Assalamualaikum.

Ya, umur saya sekarang memang baru 23 tahun. Dan sulit mempercayai saya sudah berkerja di semua sektor perusahaan, mulai dari Start Up Lokal, Swasta, BUMN dan kini berada di sebuah “Perusahaan Asing”.

Ya ceritanya panjang, diawal kelas 4 atau semester 7 saya ditawari untuk masuk ke sebuah Start Up, sebenarnya saat itu saya belum siap untuk bekerja. Namun karena saya berfikir, saat saya lulus nanti saya harus punya pengalaman kerja. Dan saya membayangkan semua mahasiswa yang berstatus pengangguran pasti akan berbondong2 mencari sebuah pekerjaan. “Lalu apa yang membuat saya berbeda dengan yang lain?”, itulah yang melatarbelakangi saya untuk menerima pekerjaan tersebut. Disamping gaji yang lumayan menggiurkan untuk posisi saya yang masih menjadi mahasiswa saat itu. Singkat cerita saya memang kewalahan untuk belajar disana, hanya bertahan 4 bulan dan saya memang tidak berniat untuk melanjutkan karena takut tidak dapat lulus nanti bila terlalu konsen ke pekerjaan. Namun kebetulan saya juga tidak diperpanjang kontraknya. hehehe..

Singkat cerita setelah saya lulus sidang dan berstatus mahasiswa yang menunggu wisuda, saya bersama teman-teman mulai mencari sebuah pekerjaan yang begaji cukup namun banyak ilmu yang bisa didapatkan. Yap, Alhamdulillah saya diterima disebuah perusahaan swasta yang bergerak dibidang cloud computing. Sampai sekarang saya kadang masih merasa kangen untuk becanda dan berdiskusi disana. Singkat cerita, saya tidak betah disana karena customer yang saya handle waktu itu agak usil. Tapi ada faktor lain juga sih. Saya pengen pindah ke Jogja, tempat yang sejak dulu saya impikan untuk tinggal. Ya, Jogja memang kota yang belum ada bandingannya, kota unik yang tidak ada ditempat lain.

Singkat cerita saat itu saya mencari-cari lowongan system administrator di Jogja. Arrrhhh.. Susahnya nyari kerja di Jogja, sangat sedikit sekali lowongan untuk System Administrator disana. Dan saat itu malah saya mendapat lowongan BUMN di sebuah milis. weeewww.. “BUMN” Pikiran saya kemana-mana soal BUMN. “Gaji? Tunjangan? Bisa nikah cepet-cepet nih”. Alih-alih dengan alasan untuk bisa pindah kerja di Jogja, karena perusahaan BUMN tersebut mempunyai beberapa cabang, dan salah satunya di Jogja. Akhirnya saya putuskan untuk pindah ke BUMN dengan status saya yang baru 6 bulan bekerja perusahaan cloud cumputing.

Di BUMN tersebut saya belajar banyak, walaupun sebagian besar bukan mengenai pelajaran teknis orang IT. Tapi Alhamdulillah bisa masuk kesana, kalau tidak.. mungkin saya tidak berada di posisi yang sekarang ini. Hanya bertahan kurang dari 2 bulan, saya berada di BUMN ini. Anda bisa baca cerita saya disini.

Setelah saya berstatus sebagai pengangguran, saya mulai mencari perusahaan IT yang bergerak di daerah Jogja. Agak lama saya mencari informasi lowongan kerja disini, entah karena memang jarang ada lowongan, atau saya yang kurang relasi jaringan di Jogja. Kebetulan saya mendapat lowongan kerja di sebuah perusahaan asing yang berpusat di Amerika. Prosesnya agak lama untuk mendapat status karyawan disini tapi Alhamdulillah dapat.

Namun setelah bekerja di sini beberapa saat, saya mulai menyadari bahwa bagaimanapun bekerja ditempat orang itu tidak enak. Maksudnya saya disini kurang leluasa. Menjadi seorang entrepreneur dan membuat perekonomian disekitarnya tumbuh menurut saya lebih baik lagi. Namun jangan lupakan soal modal, pernahkah anda berfikir bahwa bila kita meminjam modal kepada Bank akan berdampak pada banyak sektor. Termasuk produk yang kita pasarkan. Misalkan, bila kita meminjam uang bank untuk mendapatkan modal untuk memulai usaha. Pastinya produk yang kita hasilkan adalah produk yang berasal dari riba, yang menurut saya tidak seharusnya dikonsumsi. Lalu bagaimana solusinya?

Pasti Allah sudah membuatkan sebuah solusi, percayalah kita dapat bekerja sama dengan investor, atau bisa juga patungan dengan teman-teman untuk mendapatkan modal. Dan bila memang itu adalah jalan yang ada dan harus dilewati, maka lewatilah. Kebanyakan dari kita tidak mau untuk menelan pil pahit yang setiap hari harus kita konsumsi. Dan hasilnya kita tidak akan sembuh dari penyakit yang telah menjangkiti kita selama ini, mungkin bisa jadi malah penyakit di tubuh kita akan menjadi lebih parah. Bila kita harus bersusah payah, ya ambillah itu.

Baiklah, sepertinya cukup sekian dari saya.
Terimakasih sudah mampir untuk membaca.

 

 

Maafkanlah hambaMu ini

Islam, sudut pandang
sujudpic : https://pbs.twimg.com/media/CKxUFAQUcAA8qzM.jpg

Ya Allah,
kepadaMu lah aku meminta, dan memohon pertolongan.

Ya Allah,
Engkau Yang Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun.

Maafkanlah hambaMu ini, yang kurang dan sering lupa bersyukur kepadaMu.
Maafkanlah hambaMu ini, yang sering terlambat menunaikan kewajiban yang Engkau berikan kepadaku.
Maafkanlah hambaMu ini, yang bertaubat namun masih sering menjalankan maksiat.

Ya Allah,
Tuntunlah hambaMu ini ketempat yang lebih baik, dan jauhkanlah dari azabMu kelak.

Ya Allah jadikanlah Aku termasuk hamba-hambaMu yang beruntung dan pandai bersyukur.
Ya Allah jauhkanlah Aku dari keadaan tua yang buruk.
Ya Allah, tuntunlah hambaMu ini agar selalu dekat denganMu.
Dan ampunilah semua dosa hambaMu ini, sesungguhnya hambaMu ini adalah seorang pendosa yang sering tergiur akan nikmat dunia.

Ceritaku tentang melepaskan riba dari kehidupanku

Hadits, Islam, sudut pandang
riba
pic : http://41.media.tumblr.com/3eda9de973d8f717f1d98aebb38fc08a/tumblr_nm4cojhR3B1rakvtzo1_1280.jpg

Assalamualaikum.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda :

عَنْ جَابِرِ قَالَ: لَعَنَ رَسُوْلُ اللهِ آكِلَ الرِّبَا وَمُؤَكِّلَهُ وَكَاتِبَهُ وَشَاهِدَيْهِ. وَقَالَ: هُمْ سَوَاءٌ.

“Dari jabir radhiallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaknat pemakan riba, pemberi riba, penulis dan kedua orang yang menjadi saksi atasnya” Beliau berkata: “Mereka itu sama (saja).” (Hadits riwayat Muslim, 3/1219.)

الرِّبَا ثَلاَثَةٌ وَسَبْعُوْنَ بَابًا أَيْسَرُهَا مِثْلُ أَنْ يَنْكِحَ الرَّجُلُ أُمَّهُ، وَإِنَّ أَرْبَى الرِّبَا عِرْضُ الرَّجُلِ الْمُسْلِمِ.

“Riba itu (memiliki) tujuh puluh tiga pintu, yang paling ringan daripadanya adalah seperti (dosa) seorang laki-laki yang menyetubuhi ibunya (sendiri). Dan sejahat-jahat riba adalah kehormatan seorang muslim.” (Hadits riwayat Al-Hakim dalam Al Mustadrak, 2/37; Shahihul Jami’, 3533.)

“Sungguh akan datang pada manusia suatu masa (ketika) tiada seorangpun di antara mereka yang tidak akan memakan (harta) riba. Siapa saja yang (berusaha) tidak memakannya, maka ia tetap akan terkena debu (riba)nya,” (HR Ibnu Majah, hadits No.2278 dan Sunan Abu Dawud, hadits No.3331; dari Abu Hurairah).

Hadits tersebut hanya sebagian dari hadits yang menjelaskan betapa riba sangat tidak dianjurkan dalam Islam. Saya punya sedikit cerita mengenai riba. Mungkin bisa menjadi cerita pengantar tidur anda. Cerita berawal ketika saya diterima disebuah BUMN dan berkantor di Jakarta Pusat. Perusahaan dengan karyawan yang tidak sedikit, dan saya tidak dapat menghafal nama semua orang disana. Saat wawancara saya ditahap akhir, saya ditempatkan pada sebuah instansi dimana sebagian client/customernya adalah bank. Saya masuk menjadi System Administrator, tapi agak aneh karena harus handle jaringan juga. Jadi menurut saya itu bukan System Administrator deh, itu IT Infrastructure.  Saya sangat suka karena hampir semua orang disana “welcome”. Orangnya ramah-ramah, lebih ramah dari orang-orang yang ngantor dikantor sebelumnya. horee…

Instansi yang saya tempati ternyata mempunyai client bank 90an%. Dari bank konfensional sampai bank syariah, dan sisanya adalah media. Jadi jobdesc-nya  adalah membuat customer-customer kami selalu update secara real-time dengan harga saham, dan nilai tukar mata uang (sepertinya itu doank deh). Nah ini lah kesalahan saya, asal terima saja tidak tau kalau kerja berkaitan dengan bank ada efeknya.

Okay, saya mulai… Hal ini menurut saya agak susah diterima sebagian orang yang sudah nyaman bekerja di bank, mungkin sudah enak dapat gajinya, atau sudah nyaman dengan lingkungan kerjanya. Bagaimanapun bank adalah tempatnya riba. Tak dapat dipungkiri walaupun bank syariah-pun yang nota bene meniggalkan riba, namun ternyata pada kenyataannya masih ada beberapa aspek yang membuat pendapatannya haram, atau malah riba. Jadi bisa jadi riba bisa jadi bukan riba tapi sama-sama haramnya.

Memang saya tidak bekerja di sebuah bank, tapi customer saya saat itu kebanyakan adalah bank. Lalu apa hubungannya dengan riba? memang pekerjaan tersebut tidak ada sangkut-pautnya dengan riba bank. TAPI… bank itu kan salah satu pendapatannya adalah dengan riba. Dari situ lah saya tidak mau, karena siapa yang bisa menjamin mereka membayar kami dari uang hasil riba atau bukan. abu-abu adalah kata yang menurut saya bisa menggambarkan kondisi tersebut. Dan saya lebih memilih untuk keluar dari pada menerima uang yang tak tau kejelasannya dari mana. Lalu kenapa saya menekankan pada riba? Berikut adalah kutipan beberapa peringatan dari Allah mengenai riba :

Allah Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَذَرُوا مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبَا إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ فَإِن لَّمْ تَفْعَلُوا فَأْذَنُوا بِحَرْبٍ مِّنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ ۖ وَإِن تُبْتُمْ فَلَكُمْ رُءُوسُ أَمْوَالِكُمْ لَا تَظْلِمُونَ وَلَا تُظْلَمُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), ketahuilah bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya.” [Al-Baqarah: 278-279]

الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لَا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا فَمَنْ جَاءَهُ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّهِ فَانْتَهَى فَلَهُ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَى اللَّهِ وَمَنْ عَادَ فَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ ; يَمْحَقُ اللَّهُ الرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ كَفَّارٍ أَثِيمٍ

“Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual-beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba. Barang siapa yang datang kepadanya peringatan dari Allah. Lalu ia berhenti maka baginya adalah apa yang telah berlalu dan urusannya adalah kepada Allah dan barang siapa yang kembali lagi, maka mereka adalah penghuni neraka yang kekal di dalamnya. Allah akan menghapus riba dan melipat gandakan sedekah dan Allah tidak suka kepada orang-orang kafir lagi pendosa”. (QS. Al-Baqarah : 275- 276)

Dari beberapa potong ayat surat Al Baqarah, sangat dengan jelas bahwa Allah melarang kita untuk mengkonsumsi uang riba. Jadi apa salahnya kita menjauhi penghasilan kita yang belum jelas dari riba atau bukan dan mencari yang lebih halal lagi. Alhamdulillah, saya dimudahkan untuk itu.

Disaat saya menginjak pekan ke 3, saya mengidap flu. Dan tidak berselang lama dari awal saya mengidap flu, saya mendapatkan sebuah uang bagi hasil, lumayan 300 ribu. Lalu 200 ribu saya gunakan untuk berobat kedokter dan membeli obat di apotik. Dua hari selanjutnya setelah saya berobat ke dokter, saat itu saat saya dalam perjalanan pulang dari kantor dan saya sempatkan mampir di sebuah mini market dekat stasiun. Saya masih ingat sekali pecahannya 50 ribu ada dua lembar di dompet saya. Saat itu saya membeli vitamin C dan beberapa cemilan. Dan karena hanya menghabiskan 20 ribuan, saya membayarkannya dengan uang pecahan 20 ribu di dompet. Lalu saat sampai kost, tara.a… lembaran uang 50 ribu yang berjumlah dua lembar yang tadinya ada didompet itu hilang semua. Dan saya berfikir positif, saya memang disuruh keluar dari perusahaan tersebut [1]. Selanjutnnya hari berjalan seperti biasa, dan flu masih menghinggapi saya. Waktu berjalan mengantarkan saya pada satu bulan pertama, dan saat melihat gaji. wah, kenapa tidak dapat tunjangan? Dan saya juga perfikir positif, ini memang saya disuruh keluar dan ini adalah alasan yang tepat untuk keluar. [2] Saat saya protes ke assisten manager, yang sebenarnya saya tidak mau melanjutkan lagi bekerja disana, eh malah dapat tunjangan untuk bulan berikutnya. Arrrhhh…

Ya, saya masih mencari cara bagaimana saya bisa keluar dari perusahaan tersebut. Kenapa menunggu alasan? Tinggal kasih surat resign aja kan? ya memang simple-nya begitu, tapi saat saya tanda tangan kontrak saya lihat ada denda bila saya keluar sebelum kontrak saya habis. Bila saya keluar sebelum kontrak habis maka saya mendapat denda sebesar gaji saya dalam sisa kontak yang saya tinggalkan.

Agak frustasi sih, bagaimana caranya keluar. Tapi Alhamdulillah memang Allah memberikan jalan untuk hambaNya yang berniat berjalan di jalan-Nya. Flu saya tak kunjung sembuh dan bertambah sering pusing di dekat hidung. Akhirnya saya putuskan untuk pulang kampung. Saat itu baru satu pekan puasa Ramadhan. Setelah saya pulang, saya periksa ke dokter dan saya di vonis terjangkit sinusitis. Dan tidak bisa bekerja di ruangan berAC untuk beberapa waktu karena saya sinusitis dapat kambuh suatu waktu. Bagaimana bisa saya melanjutkan kerja padahal saya kerja keliling Data Center customer yang notabene dingin banget. [3]  Saya pikir cukup dengan 3 alasan yang kuat untuk resign dari BUMN yang baru genap satu bulan saya berada disana. Akhirnya saya mengatakan kepada Ibu bila saya ingin keluar dari perusahaan tersebut. Alhamdulillah Ibu mendukung (terimakasih Ibu).

Tiga pekan berlalu dan saya tidak ke kantor sama sekali, ya memang niat begitu biar saya dikeluarkan. Tapi kok tidak dikeluarkan ya? Akhirnya saya membuat surat pengunduran diri disertai surat keterangan sakit dari dokter. Dan Alhamdulillah saya dapat keluar dan tentunya tanpa sanksi harus mengembalikan uang.

Satu pekan setelah saya resign, saya tak kunjung mendapatkan sebuah lowongan pekerjaan diyogyakarta. Kenapa di jogja? karena jogja tempat impian saya untuk tinggal disana. Dua pekan berlalu saya baru mendapat satu lowongan sysadmin di magelang. Tapi mungkin karena saya meminta salary lebih basar dari apa yang mereka berikan, akhirnya saya tidak dipanggil. Pekan ketiga saya masih menjadi pengangguran yang mencari lowongan. Masih ada dalam benak saya bahwa Allah akan membayar janjinya untuk hambaNya yang berniat untuk berada di jalanNya. Setelah itu saya mendapat lowogan dimana saya bekerja sekarang. Sebuah lowongan sysadmin untuk perusahaan asing yang bertempat di jogja. Baru dapat lowongan aja sudah seneng banget. Akhirnya saya beranikan telepon kantor saya untuk menanyakan apakah lowongannya masih valid dan kemana saya bisa mengirim CV saya? Padahal sih baru liat lowongan itu di jobs street bisa juga ngelamar via job street. Tapi saya saat itu kirim via email. Sepuluh hari berlanjut, dan tidak ada perkembangan apapun. Saya masih menjadi pengangguran. Dan mulailah pikiran kemana-mana? Apa yang kurang? Apa saya salah? Kenapa Allah belum menepati janjiNya? Akhirnya saya telepon ke HRD kantor saya sekarang untuk menanyakan apakah saya tidak lolos tahap seleksi berkas? Baru tutup telepon, 10 menit kemudian saya mendapatkan panggilan untuk interview. Hore.. seneng banget deh, udah kepikiran gimana senengnya kalau kerja di Jogja. Singkat cerita saya diterima di perusahaan tersebut. Perusahaan dimana saya bekerja sekarang. Kantor dimana semua orang mengasyikan, apa lagi di Jogja, Manager yang paling baik yang pernah menjadi atasan saya walaupun dia jauh di Columbia sana, dan terakhir adalah salary yang lebih besar dari semua perusahaan dimana saya pernah bekerja sebelumnya. Alhamdulillah…

Allah berfirman :

( فَبِأَيِّ آَلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (47

“Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” (QS. Ar Rahman: 47).

Saya pernah membaca sebuah halaman, dimana betapa tidak menyadarinya seorang pengusaha mengenai riba. Apa bila seorang pengusaha memulai usahanya menggunakan uang riba. Maka produk yang dihasilkan juga produk yang tercemari oleh riba. Dan bila produk tersebut dikonsumsi oleh halayak ramai, bagaimana efeknya? Saya tidak dapat membayangkan hal tersebut.

Pada akhir tulisan saya, saya akan menyampaikan sebuah hadits tentang akhir zaman :

لَيَأْتِيَنَّ عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ لاَ يُبَالِى الْمَرْءُ بِمَا أَخَذَ الْمَالَ ، أَمِنْ حَلاَلٍ أَمْ مِنْ حَرَامٍ
“Akan datang suatu zaman di mana manusia tidak lagi peduli dari mana mereka mendapatkan harta, apakah dari usaha yang halal atau haram.” (HR. Bukhari no. 2083)

Semoga tulisan saya paling tidak dapat membuat anda membuka mata tentang riba. Suatu hal yang seharusnya anda jauhi.